Bundaku mawar merah merekah di pekarangan rumah, bundaku bunga matahari indah yang selalu menampakkan senyum manisnya. Bundaku juga burung kenari yang selalu bernyanyi di pagi hari. Tak ada yang tak mengenal bunda di tempat kami. Mungkin karena bunda orangnya ramah dan supel. Kemanapun bunda pergi selalu ada yang menyapa, dan dimanapun bunda berada selalu memberi sapa riangnya. Kadang aku ingin sperti bunda bisa memiliki banyak teman. Memiliki saudara di mana-mana.
Ayahku bening air telaga, yang diam pada pusarannya. Ayahku angin lembut tak pernah bersuara. Ayah seorang bijak yang sangat pas mendampingi bunda. Tak bisa kubayangkan jika ayah memiliki watak seperti bunda, pastilah rumahku akan selalu seperti pasar malam yang ramai. Mungkin Tuhan sudah mengatur perjodohan ayah dan bunda, periang mendapat si pendiam. Tapi ayah juga keras seperti baja, angkuh seperti batu, tapi kadang juga lembut seperti sutera. Tak pernah ayah dan bunda memukul aku. Andai aku berbuat nakal dengan sekali pelototan mata saja aku sudah merasa takut. Itulah hebatnya mata ayah, entah kenapa aku selalu takut kalau menatap mata ayah yang sedang marah. Karena yang aku lihat bukan mata ayah, tapi sepasang mata harimau buas yang siap mencabik-cabik tubuhku.

Recent Comments