Bundaku (1)

Bundaku mawar merah merekah di pekarangan rumah, bundaku bunga matahari indah yang selalu menampakkan senyum manisnya. Bundaku juga burung kenari yang selalu bernyanyi di pagi hari. Tak ada yang tak mengenal bunda di tempat kami. Mungkin karena bunda orangnya ramah dan supel. Kemanapun bunda pergi selalu ada yang menyapa, dan dimanapun bunda berada selalu memberi sapa riangnya. Kadang aku ingin sperti bunda bisa memiliki banyak teman. Memiliki saudara di mana-mana.

Ayahku bening air telaga, yang diam pada pusarannya. Ayahku angin lembut tak pernah bersuara. Ayah seorang bijak yang sangat pas mendampingi bunda. Tak bisa kubayangkan jika ayah memiliki watak seperti bunda, pastilah rumahku akan selalu seperti pasar malam yang ramai. Mungkin Tuhan sudah mengatur perjodohan ayah dan bunda, periang mendapat si pendiam. Tapi ayah juga keras seperti baja, angkuh seperti batu, tapi kadang juga lembut seperti sutera. Tak pernah ayah dan bunda memukul aku. Andai aku berbuat nakal dengan sekali pelototan mata saja aku sudah merasa takut. Itulah hebatnya mata ayah, entah kenapa aku selalu takut kalau menatap mata ayah yang sedang marah. Karena yang aku lihat bukan mata ayah, tapi sepasang mata harimau buas yang siap mencabik-cabik tubuhku.

Continue reading

Senja dalam Harapan dan Mimpi

Aku terbangun karena mimpi

mimpi padang gersang di penghujung harapan yang tak pasti

Kemana lagi melarikan mimpi,

karena mimpi yang tak pernah akan terpenuhi

Kulabuhkan harapan mimpi pada matahari

Tapi…, panas mengoyak tak terperi

Hati terlalu gersang tanpa pengharapan

Sisa mimpi kemaren masih belum juga terpenuhi

Apa perlu membangun mimpi lagi?

Air mata mengalir tiap hari

Mungkin kita masih enggan mengerti

Menggali mimpi dan harapan tanpa arti

Semua tempat telah penuh mimpi yang bertuliskan keadilan

Kemana hendak diwujudkan

Atau mimpi kesejahteraan

Semua hanya omong kosong

Mimpi tinggal mimpi

Janji tinggal janji

Siapa yang peduli

Senja Menyapa

senja

Langit nampak memancarkan keindahannya. Cahaya kemerahan dengan gulungan putih dan biru membaur jadi satu bagai sebuah simponi nada yang indah. Ada suara angin yang menderu menggoyang rumput-rumput menimbulkan bunyi gemerisik. Ombak saling berkejaran diselingi warna jingga yang bertemaram dengan semburat merahnya.

Aku berdiri menatap diam dan terpaku. Alunan alam yang sahdu saat senja menyapaku . Kubiarkan wajahku tertiup lembut oleh angin yang menderu. Aku terpana…, senja begitu indahnya. Entah kapan lagi aku bisa merasakannya. Sekali lagi kubiarkan senja menyapaku penuh makna.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.