Bundaku mawar merah merekah di pekarangan rumah, bundaku bunga matahari indah yang selalu menampakkan senyum manisnya. Bundaku juga burung kenari yang selalu bernyanyi di pagi hari. Tak ada yang tak mengenal bunda di tempat kami. Mungkin karena bunda orangnya ramah dan supel. Kemanapun bunda pergi selalu ada yang menyapa, dan dimanapun bunda berada selalu memberi sapa riangnya. Kadang aku ingin sperti bunda bisa memiliki banyak teman. Memiliki saudara di mana-mana.
Ayahku bening air telaga, yang diam pada pusarannya. Ayahku angin lembut tak pernah bersuara. Ayah seorang bijak yang sangat pas mendampingi bunda. Tak bisa kubayangkan jika ayah memiliki watak seperti bunda, pastilah rumahku akan selalu seperti pasar malam yang ramai. Mungkin Tuhan sudah mengatur perjodohan ayah dan bunda, periang mendapat si pendiam. Tapi ayah juga keras seperti baja, angkuh seperti batu, tapi kadang juga lembut seperti sutera. Tak pernah ayah dan bunda memukul aku. Andai aku berbuat nakal dengan sekali pelototan mata saja aku sudah merasa takut. Itulah hebatnya mata ayah, entah kenapa aku selalu takut kalau menatap mata ayah yang sedang marah. Karena yang aku lihat bukan mata ayah, tapi sepasang mata harimau buas yang siap mencabik-cabik tubuhku.
Ayahku yang menamai diriku, entah dapat ide dari mana hingga ayah memberi nama itu padaku. Mungkin di suatu senja ayah melihat pelangi yang indah. Dan saat persamaan aku terlahir ke dunia, tapi saat itu ayah sedang berada di sebuah pulau kecil yang bernama karimun jawa karena sedang ada proyek di sana. Ayah tidak menungguiku kelahiranku, dan bunda berjuang dengan sekuat tenaga melahirkan aku. Kata bunda saat melahirkan aku, bunda merasakan sakit luar biasa, mungkin saat melahirkan aku bunda masih terlalu muda usia. Dan aku adalah anak pertama yang dinanti-nantikan ayah. Tapi sayangnya aku terlahir perempuan, bukan laki-laki seperti harapan kebanyakan orang. Tapi meskipun begitu aku sangat disayang ayah dan bunda. Terutama ayah, apapun yang aku minta pasti selalu dituruti. Apalagi jika aku berprestasi di sekolah.
Ayah adalah orang yang pintar, waktu kecil aku suka lihat gambar-gambar ayah, meskipun cuma berupa garis lurus, segitiga atau lingkaran, yang semua ada angka-angkanya. Kadang cuma balok-balok kotak atau petak-petak rumah saja. Sedangkan bunda suka menggambar orang, entah menurun dari ayah atau bunda sehingga aku jadi suka melukis, aku biasa menumpahkan semua dalam kanvas. Saat aku SMP aku sering diikutkan lomba lukis, meskipun tak pernah jadi juara. Tapi itu sudah membuatku senang. Dari TK sampai SMP, ayah tak pernah mempunyai waktu luang untuk mengambil raporku. Selalu saja bunda yang mengambil. Dan bunda juga mendaftarkan aku sekolah. Tapi saat SMA karena aku masuk dalam 10 murid berprestasi dari seluruh siswa di sekolah, maka ayah mendapat undangan khusus untuk mendampingi aku menerima hadiah dari kepala sekolah. Saat itu adalah saat yang paling indah dalam hidupku, karena sudah bisa bikin ayah bangga. Hatiku berbunga-bunga tiada tara. Seperti remeo saat jatuh cinta pada juliet, tak terlukiskan.
****
Bundaku sangat pintar memasak, bahan apapun yang dipegang bunda bisa menjadi olahan yang sangat istimewa. Terasa nikmat di lidah, menggoyang seluruh persendian rasa. Itulah kehebatan bunda. Bagiku, tak ada yang bisa memasak senikmat masakan bunda. Hingga kadang kalau harus terpaksa makan di luar pasti tidak bisa menggugah seleraku. Bunda juga seorang yang ringan tangan dan suka sekali menolong orang lain. Jika kami memiliki banyak makanan di rumah, pastilah semua tetangga di kanan kiri bisa menikmatinya. Jika bepergian, bunda tak akan pernah lupa untuk membawa buah tangan yang akan dibagikan pada tetangga dan saudara-saudara kami.
Saat itu aku sudah remaja, bunda mengalami sakit yang aneh menurutku. Wajahnya pucat, selalu mengeluh pusing, dan muntah-muntah. Aku tak tega melihat bunda sakit. Hingga bunda periksa ke dokter. Kata dokter bunda sedang hamil. Entah mengapa saat mendengar bunda hamil, aku jadi marah, aku jadi membenci bunda. Semua teman-teman di sekolah pasti akan menertawakan aku, itu yang aku pikirkan saat itu. Karena saat itu aku sudah remaja dan akan memiliki adik lagi. Aku merasa cemburu jika nanti bunda tidak sayang aku lagi. Aku menangis, aku sangat sedih. Sedih yang benar-benar sedih. Ingin sekali aku pergi dari rumah, aku tau kecemburuanku ini tak beralasan. Entahlah, yang pasti saat itu aku jadi tak selera makan. Dalam dadaku terasa meledak-ledak. Hanya satu kata “aku benci bunda”, itu yang ada dalam kepalaku.
Sembilan bulan lebih telah aku lalui dalam amarah. Berat badanku turun drastis karena jarang makan. Dari sini aku bisa ambil pelajaran : Hidup berada dalam amarah akan merugikan diri kita sendiri. Amarah hanya bisa membawa kita dalam kepahitan hati. Amarah hanya membuat hati kita tersakiti. Dan keajaiban itu akhirnya datang juga. Bunda melahirkan dengan selamat. Seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih, hidungnya mancung, rambutnya tebal dan hitam. Berat badannya 2,8 kilogram, dengan panjang 49 cm. Saat pertama aku melihat adikku, aku menangis, aku merasa bersalah dan berdosa, telah membencinya bahkan sebelum ia mengetahui apa itu dunia. Aku menyesal sekali. Entah apa yang dibawa bayi mungil itu, yang bisa mengubah seisi dunia menjadi terang karenanya. Aku sangat bahagia melihatnya. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa tersenyum, saat itu aku tersenyum sangat manis. Mungkin itu senyum termanis yang aku punya. Dunia jadi terasa indah penuh warna. Aku merasakan kebahagiaan melebihi kebahagiaan bunda. Ada yang membuncah dalam dada. Terasa semua jenis penyakit, bakteri jahat, jamur busuk, keluar semua dari tubuhku. Kini kurasakan tubuhku terasa harum, melebihi harumnya kuncup bunga yang baru mekar. Aku bahagia.
Setiap hari aku seperti merenda waktu. Menunggui adikku tiada jemu. Aku sering menggendongnya, mengganti popoknya, membuatkan susu, menemaninya layaknya seorang ibu. Bunda sangat senang dengan perubahan sikapku. Aku selalu membawa adik ke kamarku, dan memutarkan musik untuknya hingga ia terlelap. Menceritakan dongeng untuknya, memberikan kata-kata, mengajarinya bicara. Meskipun ia cuma mengedipkan mata atau merengek saja. Kadang tertawa tanpa di minta. Matanya begitu bening dan indah. Sedikitpun aku tak rela ketinggalan perkembangannya. Kadang di sekolah aku ingin cepat-cepat pulang lalu menggendongya. Menceritakan hal-hal yang terjadi di sekolah, meskipun ia tak mengerti. Kadang aku cerita hal sedih, tapi ia tertawa, tapi saat aku cerita hal lucu, ia malah menangis sejadi-jadinya. Aku sangat menyayangi adikku yang dulu aku benci. Bahkan aku rela berikan apa saja untuk adikku, bahkan nyawaku sekalipun.
Saat berusia tujuh bulan, adikku telah tumbuh dua gigi di bawah, kemudian saat delapan bulan ia sudah bisa berkata-kata dan tumbuh dua gigi di atas. Adikku tumbuh jadi anak yang sehat. Hingga dia harus kena diare dan harus opname di rumah sakit untu beberapa hari. Hatiku sangat sedih melihat selang infus menempel di tangannya yang mungil. Andai aku bisa, biar aku saja yang menggantikannya sakit. Aku tak ingin adikku sakit. Aku ingin selalu melihat senyumnya. Aku sering tidak tidur untuk menjaganya. Kadang di sekolah jadi ngantuk sekali. Itulah hal tersedih yang aku alami, melihat adikku sakit, tergolek lemas tak berdaya.
Saat berusia sepuluh bulan adikku sudah bisa berbicara dengan kosa kata yang lengkap. Bisa mengucapkan apa saja. Meskipun ia belum bisa berjalan. Dia sudah bisa bercerita, bahkan sering memintaku untuk cerita. Perkembangannya sangat bagus. Bahkan dia juga mengucap kata-kata dengan jelas. Bisa melafal huruf R dengan jelas pula. Dan saat berusia satu tahun ia sudah bisa berjalan dan berlari. Ia juga sudah bisa menghafal. Bahkan dalam bahasa asing juga bisa. Ia tumbuh jadi anak yang cerdas dan periang. Suka sekali bicara, kadang aku tertawa mendengarnya. Adikku sungguh luar biasa. Dia menjadikan hidupku benar-benar indah penuh warna.
Posted by hanif on August 4, 2009 at 4:03 am
Senangnya punya adik, aku anak bungsu jadi g tahu rasanya puny adik
Posted by senjapelangi27 on August 11, 2009 at 11:28 am
Tentu saja , aku senang sekali punya adik…
Posted by sangpelembuthati on October 30, 2009 at 9:56 am
indah penuh warna…itulah pelangi kehidupan. saudara adalah karunia terbaik di dunia.
salam kenal
sang pelembut hati
Posted by setitikharapan on December 14, 2009 at 1:16 pm
hmmmm…pengalaman pribadi yang layak untuk dibagi. Nice Post
Salam kenal ya